Me

Me

Selasa, 24 Januari 2017

Hampir 2 tahun

Tidak terasa atau terasa yang harus aku katakan, hampir 2 tahun aku menjalani pekerjaan di bidang yang baru, bahkan bisa dibilang sangat jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan kuliahku dulu, tapi itulah, namanya dunia pekerjaan yang akan kita hadapi belum tentu sesuai dengan latar belakang pendidikan yang kita dalami semasa kuliah dulu ketika untuk mendapatkan selembar ijazah yang harganya sangat mahal itu.



Banyak pelajaran dan tantangan yang harus dihadapi, ketika kita belum menguasai suatu pekerjaan baru, kita dituntut harus bisa dan harus selesai. Tekanan datang dari sana dan sini, kebingungan dan ketidaktahuan harus kita pecahkan dengan upaya dan cara sendiri. Rasanya sangat berat, semua harus dijalani, tanggung jawab harus diselesaikan. pressure kadang bisa membuat kita menjadi panik dan ingin keluar dari kepenatan ini.

Satu demi satu benang kusut dirapikan, lembaran-lembaran kertas yang berserakan kembali disusun rapi berdasarkan urutan nomor halamanya, skema permainan mulai tampak, tetapi tetaplah tidak mudah. Kerja akan mudah ketika setiap organ yang ada didalam tubuh bisa saling dukung. Ketika salah satu organ tidak bisa mendukung untuk pencapaian target, maka pekerjaan yang diharapkan bisa selesai dengan cepat, malah akan menjadi lambat. Yang jadi masalah adalah, ketika orang lain salah melihat organ tubuh mana yang sedang bermasalah, sehingga hal ini akan menjadi beban yang sangat berat, bahkan seperti mental kita sedang di uji.

Akhir kata, let it flow... semua tidak akan sia-sia selama kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. 

Kamis, 26 Mei 2016

Jatah Sepatu Safety

Akhirnya..... ya akhirnya kebagian juga jatah... jatah apa? jatah pembagian sepatu safety dari perusahan... hahaha... walaupun bisa beli sendiri, yang namanya gratis itu nikmat hahahaha...

Selama masa kerja lebih 12 tahun baru inilah kebagian jatah, walaupun teman-teman lainnya sudah berapa kali gonta ganti sepatu safety jatah bahkan jatah motor dinaspun sudah ada yg 3 kali ganti. Tapi inilah perjalanan karir, karena memang selama 11 tahun  kerja posisi kerjaku 100% diruangan tapi sekarang kerjaanku hampir 80% harus diluar alias dilapangan. Namanya pekerjaan aku berprinsip harus siap dan bertanggung jawab dimanapun ditempatkan.

Sampai saat ini aku sangat menikmati dipekerjaan baruku, banyak pelajaran dan tantangan baru yang harus aku hadapi. Tapi aku selalu berterima kasih atas rezeki yang telah kuterima apapun itu.

Banyak Cerita Yang Terlewatkan

Sudah lama rasanya tidak buka blog ini, bahkan sudah sempat lupa nama akunya. Kebetulan seorang teman ada cerita-cerita tentang seorang bos yang hobi menulis makanya jadi ingat kalo aku dulu pernah menulis di blog ini, walaupun  baru satu tulisan yang pernah kutulis, itupun sudah cukup lama sekali.

Sebenarnya dalam perjalanan hidup selama tulisan saya terakhir itu banyak sekali cerita yang bisa aku tuangkan dalam sebuah tulisan, bisa cerita tentang anak, cerita tentang pekerjaan dan banyak cerita lainnya, termasuk cerita kelakuan teman-teman kerja yang lucu dan aneh-aneh.

Mudah-mudahan kedepan aku semakin rutin utk menulis lagi diblog ini bercerita perjalanan hari2ku.

@mess sei tapa

Sabtu, 06 Oktober 2012

Situs Iklan Online Jambiniaga


Tentang Jambiniaga.com

Jambiniaga adalah suatu situs tempat untuk memasang iklan jual beli barang atau jasa secara online. Disini anda dapat mencari barang baru atau bekas seperti mobil, motor, rumah, peralatan rumah tangga atau produk apa saja sesuai dengan yang anda butuhkan, selain itu juga informasi mengenai jasa atau pelayanan, seperti Informasi lowongan pekerjaan, jasa keuangan, kursus dan lain-lain juga tersedia di Jambiniaga.


Semua pemasangan iklan kami berikan secara gratis. Jambiniaga tercipta dari keinginan untuk memudahkan dalam bertransaksi antara penjual dan pembeli yang berada di wilayah provinsi Jambi, penjual dan pembeli dapat bertemu secara langsung karena masih berada dalam satu wilayah provinsi yang sama, tetapi tidak tertutup kemungkinan para penjual atau pembeli datang dari luar provinsi Jambi. Dengan memasang Iklan di jambiniaga, iklan anda akan dilihat oleh ribuan orang setiap harinya. Pemasangan iklan jual ataupun beli tidak dikenakan biaya, semua disediakan gratis. Bergabunglah dan Silahkan daftar sekarang juga di jambiniaga.

Sabtu, 20 Februari 2010

Malam tetaplah gelap


RABU 17 FEBRUARY 2010 MERUPAKAN KUNJUNGANKU yang entah ke berapa puluh kali ke desa Transmigrasi Purwodadi, karena tempat tinggalku hanya kurang lebih 12 km dari desa ini.Desa Purwodadi merupakan sebuah desa yang berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Purwodadi merupakan desa hasil program pemerintah zaman orde baru, desa yang dikhususkan untuk transmigrasi penduduk dari pulau Jawa ke pulau Sumatera. Desa yang dibuka sejak tahun 1985 ini dikelilingi oleh beberapa perusahaan perkebunan besar, seperti PT. Tri Mitra Lestari, PT. Agrowiyana, PT Wirakarya Sakti dan sebuah perusahaan pertambangan minyak milik PetroChina. Sayangnya walaupun sudah 25 tahun sejak dibuka, desa ini belum dialiri listrik milik negara. Desa yang berpenduduk kurang lebih 2700 jiwa ini sangat mengharapkan sekali desa mereka dialiri oleh listrik. Saya teringat ucapan Andreas Harsono, seorang penulis ternama negeri ini yang mengatakan, “mungkin SBY gak tau kalo ada purwodadi disini”, saya kaitkan kalimat mas andreas tersebut dengan masalah listrik, “gimana listrik mau masuk, SBY aja gak tau purwodadi”, itu pikirku.

“Warga desa harus mengeluarkan uang 350 ribu rupiah tiap bulannya kalau rumahnya mau masuk listrik,” tutur Jarno, sekretaris desa setempat. “Itupun hanya malam hari saja pak, dari jam 6 sore sampe jam 6 pagi,” tambahnya.

“Listriknya dari mana pak?,” tanyaku.

“ada 2 orang pengusaha genset diesel di desa ini yang menyalurkan listrik kerumah-rumah warga, kalau mau pasang baru, warga dikenakan biaya 250 ribu rupiah untuk pasang kabel kerumah warga.”

Kemudian pembicaraan saya alihkan ke masalah lain, yaitu masalah nikah dibawah umur.

“pak bener gak pak kalo wanita-wanita disini kebanyakan menikah dibawah umur?,” saya tanya dengan senyum.

“ah.. itu dak bener, persentasenya sangat kecil sekali,” tutur pak Jarno.

Kenapa saya tanyakan demikian ke pak Jarno, menurut informasi dari Puskesmas, paling tidak 60% ibu yang periksa kandungan tiap bulannya adalah ibu yang masih berusia 16-17 tahun.

Otak nakalku berpikir, “ini pasti ada hubungannya dengan listrik,” pikirku demikian.

“kalo suasananya dah gelap, lampu gak ada, apa lagi kegiatan lain kalo gak bobo-boboan”. Husssshhhh…